Dalil-Dalil yang Mewajibkan Khilafah

bismillahirrahmanirrahim

Sejarah membuktikan bahwa kejayaan kaum muslimin di masa lampau dikarenakan umat Islam mampu mempertahankan keutuhan umat, dibawah satu sistem kepemimpinan Islam yaitu Khilafah Islamiyyah dengan pembuktian sam’an wa tha’atan kepada Ulil Amri mereka (Khalifah/Amirul Mukminin). Adapun kemunduran dan kehancuran kaum muslimin karena tidak mampu lagi mempertahankan sistem kekhalifahan tersebut, yang berakibat umat terpecah-belah menjadi beberapa golongan dan tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya sendiri (ashobiyah). Fenomena ini oleh Allah SWT dinyatakan dengan tegas sebagai suatu “kemusyrikan” sebagaimana firman-Nya yang artinya:“…dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah dien mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum: 31-32).

Khilafah adalah bentuk pemerintahan dalam Islam. Khilafah dan shalat adalah sama-sama kewajiban. Namun, jika kewajiban mendirikan shalat dengan mudah kita dapati dalilnya dengan fi’il amr (kata perintah) yang jelas, tidak demikian dengan kewajiban mendirikan khilafah. Titik ini yang sering disoroti oleh orang-orang yang meragukan kewajiban mendirikan khilafah. Mereka mengatakan bahwa kewajiban menegakkan khilafah tidak ada dalilnya.

Padahal, terdapat dalil-dalil bernada fi’il amr tentang kewajiban menerapkan hukum Islam dalam negara, walaupun tidak jelas menyebut khilafah. Dan ada dalil-dalil lain yang menyebut “khalifah” walaupun tidak ber-fi’il amr. Lagi pula, bagi siapapun yang memahami ushul fiqh akan dengan mudah memahami bahwa suatu perbuatan dapat diberi status wajib walaupun dalil yang menunjuki perbuatan itu tidak bernada fi’il amr.

Semoga penjelasan super-singkat berikut ini dapat membuka pemikiran kita. Untuk memudahkan pembahasan, ada tiga isu dalam hal ini, yaitu dalil, negara syariah, dan khilafah.

Apa itu Dalil?

Dalam khazanah Sunni, yang dimaksud dengan dalil bukan hanya Qur’an dan Sunnah (Hadits), melainkan juga Ijma dan Qiyas. Ini disepakati oleh jumhur ulama. Perihal ijma ada dua pendapat, sebagian berpendapat harus ijma shahabat, sebagian lagi berpendapat bahwa ijma ulama juga termasuk kategori ijma. Yang jelas disepakati bahwa ijma harus bersumber pada Qur’an dan Sunnah.

Dalil-Dalil Kewajiban Menegakkan Negara Syariah

Banyak dalil yang menunjukkan kewajiban menegakkan syariah. Di antaranya dalil tentang wajibnya mentaati Allah, Rasul-Nya dan pemimpin/Ulil Amri (QS. An-Nisaa: 59). Ayat ini mengharuskan adanya pemimpin yang menerapkan aturan Allah dan Rasul-Nya. Pada Qur’an surat Al-Maidah ayat 44, 45, 47, 48, dan 49 secara tegas mengandung perintah menerapkan syariah.

Lalu mengapa kewajiban berhukum syariah ini diartikan menegakkan negara berdasarkan syariah? Hal ini didasarkan oleh kaidah fiqh: 

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ اِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

“Suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib.”

Kaidah ini disampaikan oleh Imam Al-Ghazali. Dan perlu diketahui bahwa setiap kaidah fiqh disusun oleh ulama ushul berdasarkan penelitiannya terhadap nash-nash Qur’an dan Sunnah.

Sebagaimana diketahui bahwa kewajiban menghukumi segala hal dengan syariat Islam tidak akan sempurna kecuali dengan adanya negara dan penguasa yang bertindak sebagai pelaksana (munaffidz), maka atas dasar kaidah ini, mewujudkan negara dan penguasa yang menerapkan syariat Islam itu menjadi wajib. Kalau pihak yang berwenang menghukumi dengan syariah itu tidak disebut negara, lalu mau disebut apa?

Hanya saja, wajibnya menerapkan syariah oleh negara ternyata masih menyimpan pertanyaan: Jika memang intinya penerapan syariah oleh negara, mengapa harus bentuknya khilafah? Bukankah negaranya boleh apa saja, entah republik (demokrasi), monarki, dsb., yang penting menerapkan syariah? Berikut penjelasannya.

Mengapa Harus Khilafah?

1. Dalil Qur’an

Dalil Qur’an tentang wajibnya menerapkan khilafah adalah dalil-dalil kewajiban berhukum dengan syariah sebagaimana dipaparkan di atas. Selain itu, ada juga dalil Qur’an yang mencantumkan kata “khalifah” di dalamnya, yaitu ayat berikuti ini:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي اْلأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Memang ada banyak penafsiran atas kata “khalifah”. At-Thabariy berpendapat bahwa “khalifah” yang dimaksud adalah pemimpin untuk kalangan jin. Sedangkan asy-Syaukani, an-Nasafi, dan al-Wahidi berpendapat bahwa maksudnya pemimpin untuk malaikat. Sedangkan Ibnu Katsir memaknai penyebutan “khalifah” karena manusia menjadi kaum yang sebagiannya menggantikan sebagian yang lain (arti “khalifah” sendiri adalah pengganti).

Namun, ada pendapat keempat, maksud ayat di atas adalah manusia diturunkan untuk menjadi khalifah bagi Allah di bumi untuk menegakkan hukum-hukum-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya. Status ini bukan hanya disandang Adam AS, namun juga seluruh nabi. Mereka semua dijadikan sebagai pengganti dalam memakmurkan bumi, mengatur dan mengurus manusia, menyempurnakan jiwa mereka, dan menerapkan perintah-Nya kepada manusia. Pendapat ini dipilih oleh al-Baghawi, al-Alusi, al-Qinuji, al-Ajili, Ibnu Juzyi, dan asy-Syanqithi.

2. Dalil Hadits

Perhatikan hadits-hadits ini:

Rasulullah SAW bersabda: “Dahulu para nabi yang mengurus Bani Israil. Bila wafat seorang nabi diutuslah nabi berikutnya, tetapi tidak ada lagi nabi setelahku. Akan ada para Khalifah dan jumlahnya akan banyak.” Para Sahabat bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi menjawab,’”Penuhilah bai’at yang pertama dan yang pertama itu saja. Penuhilah hak-hak mereka. Allah akan meminta pertanggungjawaban terhadap apa yang menjadi kewajiban mereka.” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW bersabda: “Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” Beliau kemudian diam. (HR. Ahmad dan al-Bazar)

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa para pemimpin umat Islam sepeninggal Nabi SAW disebut sebagai khalifah. Memang ini sifatnya khabar bukan perintah. Namun, sebuah hadits ahad tidak mungkin dijadikan dasar aqidah, dan oleh karenanya menjadi dasar amal. Maknanya, hadits ini mengharuskan kita beramal untuk mewujudkan khilafah.

3. Dalil Ijma Shahabat

Ijma (kesepakatan) shahabat adalah tafsir terbaik atas Qur’an dan Sunnah. Para shahabat adalah rujukan pertama sekaligus standar kebenaran tatkala kita ingin memahami Qur’an dan Sunnah. Fakta menunjukkan bahwa para shahabat sibuk memilih khalifah bahkan hingga menunda pemakaman Rasulullah SAW.

Abu Bakar ra dibaiat sebagai khalifah, dengan sebutan yang memang “khalifah” lalu disepakati oleh para shahabat. Kesepakatan (ijma) mereka menjadi dalil bahwa khilafah itu wajib dan bahwa bentuk pemerintahan Islam adalah khilafah.

Ijma shahabat tidak mungkin diganggu gugat. Rasulullah SAW menjamin bahwa mereka generasi terbaik. Mereka adalah manusia terbaik dengan pemahaman yang terbaik atas apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mencaci maki para shahabatku! Janganlah kalian mencaci maki para shahabatku! Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya seseorang menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka ia tidak akan dapat menandingi satu mud atau setengahnya dari apa yang telah diinfakkan para shahabatku.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Dari Imran bin Husain ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik umatku adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (para shahabat) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (tabi’in) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (tabi’ut tabi’in). (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ahmad dan lainnya)

Kata Para Ulama Tentang Khilafah

Kaidah fiqh yang disebutkan di atas menjadi salah satu pendapat ulama yang mendukung kewajiban pendirian khilafah. Selain itu, seluruh imam mazhab dan para mujtahid besar tanpa kecuali telah bersepakat bulat akan wajibnya khilafah (atau imamah) ini. Syaikh Abdurrahman al-Jaziri menegaskan hal ini dalam kitabnya al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah, jilid V, hal. 362.

Para imam mazhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad) rahimahumullah telah sepakat bahwa imamah (khilafah) itu wajib adanya, dan bahwa umat Islam wajib mempunyai seorang imam (khalifah) yang akan meninggikan syiar-syiar dienullah serta menolong orang-orang yang tertindas dari yang menindasnya.

Pendapat ulama lainnya tentang khilafah bisa dibaca di sini:
http://syabab1924.blogspot.com/2011/01/kewajiban-khilafah-dan-pandangan-ulama.html

Jelaslah bahwa mendirikan khilafah itu wajib hukumnya, dan berdosa meninggalkannya. Tanpa khilafah, banyak aspek syariah yang terbengkalai. Di samping itu, mendirikan khilafah adalah wujud ketaatan kita pada Allah SWT dan Rasul-Nya. Jadi, jika ada pendapat bahwa kewajiban mendirikan khilafah tidak ada landasan dalilnya, maka entah dalil apa lagi yang dimaksud.

Sebarkan informasi ini sebagai amal ibadah dakwah anda. Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s